Rabu, 10 Agustus 2022

Memberikan Arahan Pada Anak

 بسم الله الرحمن الرحيم

Masih teringat dengan tulisan seorang kawan di status whatsappnya yang menyebutkan bahwa di tempat dia berada, ada anak yang sopan, kalau ga salah anak tersebut sering memberikan salam duluan kepada orang lain/gurunya. 

Setelah ditelusur ternyata anak tersebut suka "dipeseni" oleh orang tuanya untuk berbuat seperti itu. 

Membaca tulisan tersebut jadi teringat lagi dengan teori bahwa anak ibarat kertas putih, yang mungkin tafsirannya bahwa anak itu "tidak tahu apa-apa" tentang kehidupan ini. Dan tugas kita adalah "memberitahu/menuliskan catatan-catatan baik kepada anak tentang apa yang harus dia tahu/lakukan di dunia ini".

Peran orang tua sangat penting dalam hal ini karena orang tualah yang berjumpa dengannya di sebagian besar waktunya. Demikian pula peran lingkungan (guru, masyarakat, teman dia bermain, dll). 

Bagi anak mungkin mereka tidak tahu kalau membuka aurat itu adalah perkara yang haram, karena mereka memang tidak tahu. Kalau mereka terus-terusan di lingkungan tersebut dalam keadaan tidak ada yang memberi tahu kalau hal tersebut haram/tidak boleh, maka pikirannya akan mencerna bahwa owh ga pakai jilbab itu ya perkara yang biasa saja. Artinya ya dia tidak tahu kalau itu perkara haram dan diapun biasa-biasa saja, santuy ikut-ikutan tidak pakai jilbab.

Nah dari situ perlu kita memberikan pesan/arahan kepada anak:

  1. Nak, kalau makan itu baca bismillah dan pakai tangan kanan.
  2. Nak, kalau di sekolah nurut sama Ustadz/Ustadzah.
  3. Nak, di sekolah waktu belajar duduk yang tenang, dengerin yang disampaikan guru.
  4. Nak, pakai jilbab dan kaos kakimu kalau keluar rumah.
  5. Nak, manusia hidup itu untuk beribadah.
  6. Nak, manusia dalam menjalani hidup ini butuh kesabaran
  7. Nak, kalau berbicara yang lembut, masak teriak-teriak sama Ummi
  8. dst dst
Jangan bosan-bosan ya mengulang-ulang kata itu. Jangan berputus asa kalau misalnya dia makan masih pakai tangan kiri, diingatkan terus.  

Terus disamping hal tersebut kita perlu juga membangun emosi yang positif kepada anak kita, dengan memberikan dia ruang kedekatan bersama kita, mencurahkan isi hatinya, diajak komunikasi, diajak bercanda, bermain bersama dia, memberikan kelembutan, manusiakan dia sebagai manusia, dll. 

Jangan juga setiap hari anak makan omelan ini itu, terus-menerus mendapatkan "nasehat" sampai "overdosis" dengan tidak melihat kondisinya.  

Loh ini bagaimana sih, katanya suruh mengulang-ulang memberi pesan/nasehat/arahan, kok di paragaf diatas jangan terus-terusan memberikan nasehat sampai overdosis nasehat.

Jawabannya, silakan pelajari sendiri anak-anak kita, karena memang mendidik anak itu adalah sebuah seni yang mungkin satu jurus mempan untuk anak ini, tapi tidak mempan untuk anak itu. So, semangat belajar, karena hidup memang butuh belajar.

Dan perkara yang penting juga adalah keteladanan.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar