Rumahku Syurgaku

Siapapun kita pasti ingin membangun surga di rumah masing-masing. Karena surga itu bukan barang yang murah, maka perhatikan apa yang kita "investasikan" untuk membangun surga kecil di rumah kita itu.

Anak Adalah Investasi Yang Berharga

Kita ingin memiliki anak-anak yang shalih/shalihah, tapi sudahkah kita tahu anak yang shalih/shalihah itu yang seperti apa?

Serpihan Kata-Kata

Rangkaian kata untuk mengambil hikmah/pelajaran dari hidup dan kehidupan ini. Karena tidak ada yang sia-sia apa yang ada di sekitar kita.

Tips dan Trik

Memang benar, dengan berilmu suatu perkara bisa menjadi mudah.

Akupuntur atau Tusuk Jarum

Sebuah teknik pengobatan dengan menusukkan jarum di titik tertentu di tubuh kita untuk menyembuhkan suatu penyakit.

Tampilkan postingan dengan label Rumahku Surgaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumahku Surgaku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2022

Sudah Benarkah Kita Menyayangi Dirinya?

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam kehidupan rumah tangga, kasih sayang adalah perkara yang penting. Dia adalah karunia besar yang Allah anugerahkan kepada kita. 

وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.  (QS Al Anfal 63)

Kasih sayang adalah perkara yang luar biasa, dia bisa menjelma menjadi sebuah power/ kekuatan besar yang mungkin kita sendiri pernah menyaksikan jelmaan kekuatan besar dari kasih sayang itu. 

Ada sebuah pertanyaan untuk menjadi bahan instropeksi kita dalam mengarungi rumah tangga ini. Sudah benarkah kita menyayangi dirinya (suami/istri/pasangan) kita?

Instropeksi ini penting karena barangkali kasih sayang yang kita berikan itu tidak tepat untuk pasangan kita. 

Contoh konkretnya, istri kita sukanya coklat, kita kasih jagung, kan tidak pas itu. 

Dalam memberikan kasih sayang pun demikian, hendaknya kita mengetahui sebenarnya pasangan kita itu merasa disayangi ketika apa sih?

Secara umum "perhatian" adalah jawaban dari jawaban bagaimana cara menyayangi pasangan kita. Tapi ternyata ada ahli yang menyampaikan bahwa cara memberi/menerima kasih sayang itu ada 5 poin besar (The Five Love Languages):

  1. Words of Affirmation (Kata cinta). Orang dengan tipe ini senang dengan kata-kata cinta, jika pasangan kita orang  yang suka dengan tipe ini, bisa dimaksimalkan tu.
  2. Quality time (Waktu berkualitas). Temani dia ketika sedang beraktifitas, ketika dia sedang memasak, ketika dia sedang belanja, ketika sedang mencuci, ketika sedang belajar, ketika sedang membaca/menghafal alquran. Pokoknya kita di sampingnya dia, hatinya sudah tenang. 
  3. Gifts (hadiah). Kalau yang ini jelas ya, siapa sih diantara kita yang ga suka hadiah?
  4. Acts of Service (pelayanan). Kalau pasangan kita tipe ini, hatinya akan berbunga-bunga ketika kita membantu pekerjaan dia. Dalam hatinya akan berucap wah suamiku romantis banget ketika dia bantu cuci piring, bantu memasak, bantu mencuci baju, dll.
  5. Physical Touch (Sentuhan fisik). Kalau yang ini jangan hanya diartikan perbuatan yang "itu" ya. hehe. Tapi bisa berupa pegang tangan dia, usap kepala/punggung dia (jangan umbar kemesraan di depan umum ya).

Yuk kita beri contoh penerapannya:

  1. Bagi istri, hati-hati kalau punya suami tipenya kata cinta dan waktu berkualitas. Di rumah sebagai istri, istri tidak peduli dengan hal tersebut. Suami kerja di kantor, ketemu dengan teman kantor yang perempuan, si dia menyapa, "Wah baju Bapak bagus banget, cocok pakai baju itu, cocok dengan Bapak". Bisa-bisa cintanya terebut oleh si dia. Apalagi kalau si dia juga pandai ngobrol. Sementara si istri kalau diajak ngobrol malah tidak pernah mau/tidak mau menyempatkan.
  2. Ada seorang yang bahasa cintanya bukan pelayanan. Si istri menganggap bahwa dengan dia melayani, membuatkan teh dan cemilan di pagi hari, sudah cukup. Tapi eh ternyata si suami sebenarnya bukan itu yang diinginkan. Batin dia, "Saya bisa bikin teh sendiri, bikin cemilan sendiri", yang lebih dia butuhkan, adalah waktu berkualitas. Orang yang seperti ini, pasangannya duduk bersama dia, ngobrol sana-sini lebih berasa romantis daripada hanya sekedar dibuatkan minuman dan cemilan kemudian ditinggal pergi. 
 So, sudahkah kita kenali dan benar dalam menyayangi si dia? 

 

Share:

Rabu, 27 Juli 2022

Rumah Tangga Laksana Struktur Organisasi

بسم الله الرحمن الرحيم

Rumah tangga itu layak disebut sebagai sebuah organisasi. Di atas langit sendiri, Allah 'azza wa jalla memberikan kewenangan kepada laki-laki sebagai pemimpin. Arrijalu qowwamuna 'alannisa, laki-laki adalah pemimpinnya wanita.

Sebagai sebuah organisasi tentu dia ada:

  1. Pemimpin. Dalam hal ini adalah suami/laki-laki. Yang bertanggung jawab terhadap rumah tangga. Sang pembuat keputusan yang harus ditaati bersama.
  2. Yang dipimpin yaitu keluarganya (istri dan anak-anaknya). 
  3. "Regulasi/peraturan/tata kelola". Yang biasanya ini tidak tertulis seperti istri menjadi seksi konsumsi, manajer keuangan, dll (yang biasanya banyak ya. hehe)

Ketika terjadi perselisihan, maka hendaknya semua anggota keluarga "menerima" keputusan yang telah diputuskan oleh "sang pemimpin" dengan lapang dada, meskipun segala resiko nantinya harus ditanggung bersama. 

Maka dari sini kita jadi ingat bagaimana kita dibimbing:

  1. Seorang bapak untuk mencarikan suami untuk anak perempuannya, laki-laki yang shalih. Orang yang shalih tentu tidak akan mendhalimi orang lain, apalagi istrinya sendiri.
  2. Seorang istri untuk taat kepada suaminya.
  3. Anak diperintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. 

Sebenarnya sudah jelas tatanan/"regulasi" yang ada, hanya saja dalam pelaksanaannya nanti yang mungkin agak susah, karena ada ego, ada hawa nafsu, ada kekurangan ilmu, dan ada banyak perkara yang lain yang menghalangi organisasi itu berjalan tidak nyaman.

Semoga Allah bantu kita agar rumah kita menjadi bak surga bagi kita, walaupun mungkin rumah terlihat sederhana, makanan sederhana, pakaian sederhana, kendaraan sederhana. Tapi Allah beri karunia berupa kelapangan dada menerima semua catatan takdir yang digariskan oleh-Nya.  

Share:

Minggu, 24 Juli 2022

Pekerjaan Itu Bernama Kenyamanan

 بسم الله الرحمن الرحيم

Siapapun kita pasti ingin mendapatkan kenyamanan dalam hidup yang kita jalani ini. Tidak muda, tidak tua, tidak kaya, tidak miskin pasti mendambakan kehidupan yang nyaman.

Jika semata-mata kekayaan adalah bentuk kenyamanan, mungkin kita pernah mendengar seorang kaya raya yang mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri. Jika pasangan yang cantik/ganteng adalah kenyamanan, mungkin kita pernah mendengar pasangan yang cantik dan ganteng itu kandas rumah tangganya (terjadi perceraian) di tengah perjalanan keluarga mereka. 

Memang demikian, kenyamanan tidak hanya sebatas pada semata-mata materi saja, seperti rumah megah, mobil mewah, makanan dengan level bintang lima, atau segala kemewahan dunia.

Tidak dipungkiri, rumah, kendaraan, makanan merupakan "sesuatu" yang bisa menjadikan hidup nyaman. Kalau gelandangan ditanya apakah dia senang/nyaman dengan hidup yang dia jalani, tentu dalam hatinya tersirat keinginan untuk memiliki rumah sendiri. 

Kenyamanan menjadi perkara penting, kenyamanan perlu dijadikan "pekerjaan" penting, prioritas penting, sesuatu yang perlu diperhatikan. 

  • Dalam rumah tangga, istri perlu nyaman terhadap suami, suami perlu nyaman terhadap istri. 
  • Dalam rumah tangga, anak perlu nyaman terhadap orang tua, orang tua perlu nyaman dengan anak.
  • Dalam rumah tangga, adik perlu nyaman dengan kakak, kakak perlu nyaman dengan adik.
  • Dalam persahabatan, sahabat perlu nyaman dengan sahabatnya.
  • Dalam bertetangga, tetangga perlu nyaman dengan tetangganya
  • Demikian seterusnya

Dengan kenyamanan:

  • Komunikasi akan berjalan lancar
  • Suasana akan berjalan harmoni
  • Suami akan betah tinggal di rumahnya
  • Istri akan menikmati hari-harinya/tentram hatinya
  • Anak akan nyaman tinggal di rumah, mau curhat/terbuka kepada orang tuanya. 

Bagaimana istri bisa nyaman di rumah, kalau setiap hari mendapatkan komplain ini itu. Bagaimana suami bisa nyaman kalau istri banyak menuntut ini itu. Bagaimana anak bisa nyaman kalau setiap hari hanya mendapatkan omelan, tuntutan ini itu tanpa didengar keluh kesahnya, keinginannya.

Lalu, bagaimana agar menciptakan kenyamanan dalam kehidupan ini?

Untuk mendapatkan kenyamanan itu:

  • Butuh materi yang mencukupi terutama tiga kebutuhan dasar: sandang, pangan, papan, dan mungkin zaman sekarang butuh uang. Kesehatan? jangan ditanya, kesehatan juga penting.
  • Butuh saling mengerti, saling memahami, dan terkadang butuh untuk mengalah. 
  • Butuh komitmen. 
  • Butuh menghilangkan ego.
  • Butuh perjuangan.
  • Butuh kesabaran.
  • Butuh kemauan untuk memperbaiki diri.
  • Butuh waktu untuk menjalin kasih, menjalin komunikasi yang hangat. 
  • Butuh kelembutan, ngobrol santai, bercanda, bersendau gurau, makan bersama, dll.
  • Butuh tanggapan yang baik ketika ada yang mencurahkan perasaan/mengajak ngobrol. 
  • Butuh perhatian walaupun mungkin itu kecil (yang perkara besar tentu harus diperhatikan ya), "Mas, capek ya, sudah makan belum, mau minum/makan apa?", "Dek, mau beli ini/itu ga?". Yang perempuan sesekali digombalin juga bagus. 
  • Butuh tutur kata yang halus, lembut, santun, tidak sadis/menyinggung perasaan (nah yang ini perlu diwaspadai, karena kadang kita tidak sadar ternyata ucapan kita begitu tajam menyanyat hati orang lain, padahal perasaan kita biasa-biasa saja mengucapkannya).
  • Butuh kelapangan hati, kelapangan pikirian.
  • Butuh pikiran yang positif.
  • Butuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah 'azza wa jalla. Mengetahui hak dan kewajiban masing-masing dan berkomitmen melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing dengan lapang dada/senang hati.   
So, selamat berjuang untuk kenyamanan itu. 
Share:

Selasa, 19 Juli 2022

Visi Misi, Renstra, Program Kerja, RKA, dan Monev Keluarga

بسم الله الرحمن الرحيم

Tergelitik juga mendapatkan ide tulisan seperti ini. Bekerja di sebuah tempat yang mungkin lebih banyak di bagian manajemen, membuatku terpikiran juga jika poin-poin ini di aplikasikan ke dalam keluarga. 

Kehadiran poin-poin ini: Visi Misi, Renstra, Program Kerja, RKA, dan Monev Keluarga, nampaknya bisa juga dijadikan semacam "regulasi" yang perlu kita pegangi untuk mencapai tujuan biduk rumah tangga yang kita impikan.

Mungkin langsung saja kita terapkan:

Visi: Mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat

Misi:

  1. Menciptakan nuansa islami dalam setiap aspek kehidupan rumah tangga
  2. Memiliki ma'isyah/keuangan yang sehat
  3. Menciptakan keluarga yang harmonis/akur/guyup rukun yang di dalamnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang
  4. Menyiapkan pribadi/anak/generasi yang memiliki akhlak yang tinggi terhadap Allah, Rasulullah, Dirinya Sendiri, Orang Tua, dan sekitarnya.   

Rencana Strategis/Renstra

  1. Mencari ilmu agama sepanjang hayat.
  2. Perbaikan ekonomi keluarga.
  3. Menciptakan kehangatan, kasih sayang, dan hal-hal yang bisa mendatangkan rasa cinta di dalam keluarga.
  4. Interaksi yang berkelanjutan terhadap alquran: membaca, menghafal, belajar makna yang terkandung di dalamnya. 
  5. Menyiapkan generasi islami yang qurani serta berakhlak mulia.
  6. Menjaga kesehatan dengan pola hidup, pola makan, pola pikir yang sehat.

Program kerja:

  1. Taklim ilmu agama: setiap hari/minggu diagendakan menghadiri majelis ilmu.
  2. Menambah khasanah keilmuan dunia: setiap hari.
  3. Bisnis untuk menambah pendapatan keluarga: target sampai akhir 2022
  4. Piknik/keluar makan-makan: setiap bulan.
  5. Target anak-anak hafal alquran: umur 10 tahun. 
  6. Olahraga: seminggu 3 kali. 
  7. Menjaga makanan dan minuman yang sehat: setiap hari.
  8. Penanaman adab-adab yang baik: setiap saat
  9. Silaturahmi ke orang tua/kerabat: setiap bulan.
  10. Naik haji/umroh: sebelum usia 60 tahun. 

Rencana Kerja Anggaran (nominal diisi sendiri ya sesuai budget, hehe): 

  1. Makan dan minum: Rp ..........
  2. Biaya sekolah: Rp ..........
  3. Biaya listrik, air: Rp ..........
  4. Iuran desa: Rp ..........
  5. Bensin: Rp ..........
  6. Piknik/makan-makan/happy-happy (tetap yang syari ya): Rp ..........
  7. Jajan anak-anak: Rp ..........
  8. Belanja bulanan: Rp ..........
  9. Belanja mingguan: Rp ..........
  10. Tabungan: Rp ..........
  11. Infak/sedekah: Rp ..........
  12. Orang tua/keluarga: Rp ..........  
  13. Pembuatan/penyusutan rumah/kendaraan: Rp ..........
  14. dll disesuaikan kebutuhan.

Monitoring dan Evaluasi (monev): bisa dilakukan setiap mingguan/bulan/tahunan setiap saat terhadap poin-poin di atas. 

Itu dia konsep yang baru aja kepikiran, semoga bisa diterapkan. 

Mungkin memang perlu yah, hal-hal semacam itu kita baca berulang-ulang agar kita tidak salah arah dalam melangkah, langkah kita itu pasti. 

Sifatnya sih mungkin tetap fleksibel sih ya, kalau mau dibuat dokumen ya masya Allah karena barangkali mau diakreditasi (wkwkwk).

 

Share:

Minggu, 17 Juli 2022

Investasi Untuk Membangun Rumah

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Memiliki rumah sendiri adalah impian bagi mereka yang sudah membina rumah tangga. Dengan rumah sendiri, sebuah keluarga lebih bisa mengatur strategi untuk mencapai tujuan pernikahan yang telah mereka canangkan sehingga tidak ada pihak lain yang turut campur dalam kemudi perjalanan ke titik tujuan. 

Kita sadari untuk membangun rumah, butuh investasi, butuh menyisihkan uang, butuh mengalokasikan uang, butuh mengalokasikan pikiran untuk menggapai mimpi tersebut. 

Kita akan rencanakan ruang tamu sebelah mana, ruang keluarga sebelah mana, tempat tidur sebelah mana, ruang garasi sebelah mana, daput sebelah mana, toilet sebelah mana, dan seterusnya. Perencanaan itu harus dibuat dengan matang dan tepat agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan

Perencanaan secara fisik mungkin bagi sebagian orang sudah dilakukan karena memang itu sesuatu yang terlihat. 

Tapi kali ini kita akan mengingatkan tentang perencanaan nonfisik untuk mencapai keluarga yang bahagia, yang sakinah mawadah wa rahmah.

  1. Sudahkah kita berilmu (baik suami/istri) tentang bagaimana sih membangun keluarga yang bahagia itu.
  2. Sudahkah kita tahu bagaimana cara kita membahagiakan suami/istri/keluarga kita.
  3. Sudah benarkah cara kita mencintai dan  mengasihi keluarga kita.  
  4. Sudahkah kita berilmu cara mendidik anak-anak agar mereka bisa menjadi penyejuk mata bagi kita. 

Deretan kata itu mungkin mudah diucapkan/dituliskan tapi untuk pelaksanaannya, butuh energi yang harus dialokasikan.

So, jika kamu sudah menginvestasikan untuk fisik rumahmu, sudahkah kamu investasikan hal-hal nonfisik untuk kebahagian keluargamu? 

Share: