Rumahku Syurgaku

Siapapun kita pasti ingin membangun surga di rumah masing-masing. Karena surga itu bukan barang yang murah, maka perhatikan apa yang kita "investasikan" untuk membangun surga kecil di rumah kita itu.

Anak Adalah Investasi Yang Berharga

Kita ingin memiliki anak-anak yang shalih/shalihah, tapi sudahkah kita tahu anak yang shalih/shalihah itu yang seperti apa?

Serpihan Kata-Kata

Rangkaian kata untuk mengambil hikmah/pelajaran dari hidup dan kehidupan ini. Karena tidak ada yang sia-sia apa yang ada di sekitar kita.

Tips dan Trik

Memang benar, dengan berilmu suatu perkara bisa menjadi mudah.

Akupuntur atau Tusuk Jarum

Sebuah teknik pengobatan dengan menusukkan jarum di titik tertentu di tubuh kita untuk menyembuhkan suatu penyakit.

Tampilkan postingan dengan label Serpihan kata-kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serpihan kata-kata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Oktober 2025

Gerbong Rasa

بسم الله الرحمن الرحيم

Gerbong kereta, tempat yang diam-diam menyimpan begitu banyak rasa, dari rindu sampai harapan, dari tawa sampai kesepian.

Gerbong itu tidak pernah memilih siapa yang masuk ke dalamnya. Ia hanya menerima siapa pun yang datang dengan tiket dan waktu keberangkatan yang tepat.

Tapi setiap orang yang duduk di dalamnya, membawa dunia mereka masing-masing. Ada yang membawa penuh dengan harapan, ada yang membawa dengan penuh kenangan, dan ada yang membawa lainnya yang diketahui masing-masing orang di dalamnya. 

Gerbong kereta, disana ada yang duduk tenang, ada yang memandangi sekitar, ada yang asyik dengan smartphone di genggaman, ada yang diam dalam seribu bahasa. Ada juga yang menunduk, matanya lelah menahan kantuk atau menahan rindu.

Di satu masa yang lain mungkin ada tangisan, ada senyuman, ada gelak tawa, tapi tak semua tawa berasal dari bahagia. Kadang ada yang tertawa agar tidak terlihat rapuh. 

Gerbong menyatukan mereka dalam satu arah. Tapi tidak menyamakan tujuan hati mereka. Ada yang ingin segera sampai. Ada juga yang diam-diam berharap waktu di kereta tak cepat berlalu.

Di antara suara roda yang menggesek rel, dan bunyi pintu otomatis yang terbuka-tutup, ada ruang-ruang sunyi yang hanya bisa didengar oleh ruang hati masing-masing.

Gerbong kereta itu seperti panggung sunyi. Setiap orang adalah aktor dalam kisahnya sendiri.

Dan saat akhirnya sampai di stasiun tujuan, mereka keluar satu per satu, membawa kembali rasa yang sempat mereka titipkan di sepanjang perjalanan.

Tinggallah gerbong itu lagi, kosong... tapi penuh bekas jejak yang tak terlihat—jejak rasa, jejak doa, jejak rindu yang belum selesai


Share:

Rabu, 22 Oktober 2025

Stasiun Kroya dan Jejak Rindu Yang Tertinggal

   بسم الله الرحمن الرحيم

Langit Kroya di sore ini agak cerah. Aku berdiri diantara bangku-bangku yang penuh, memperhatikan jasad-jasad yang tengah menunggu. 

Ada yang membawa koper, ada yang membawa tas, ada yang membawa kardus, tapi semuanya membawa sesuatu yang sama: perasaan.

Stasiun selalu jadi tempat yang ganjil. Di satu sisi dia menjadi titik awal, di sisi lain, dia adalah tanda perpisahan. Mungkin ada yang melambaikan dengan tawa. Ada juga yang tersenyum sambil menyeka air mata. Ada pula yang memeluk erat seolah takut waktu mencuri lebih cepat.

Kroya menjadi saksi cerita setiap harinya. Cerita tentang keberangkatan yang diiringi harapan. Cerita tentang kepulangan yang membawa kerinduan.

Setiap orang yang berangkat, mungkin punya alasan untuk kembali. Tapi tidak semua bisa kembali tepat waktu. Mungkin karena keadaan. Mungkin karena janji yang belum bisa ditunaikan. Mungkin juga karena ada luka yang masih perlu waktu untuk disembuhkan. 

Dan di tengah suara peluit kereta dan roda logam yang menggesek rel, bisa jadi ada gema doa-doa lirih yang tak terdengar, tapi terasa. Doa dari seorang istri yang melepas suaminya bekerja jauh. Doa dari anak kecil yang belum paham kenapa ayahnya harus pergi. Doa dari seorang ibu yang belum ingin berpisah dengan anaknya. 

Stasiun seolah menjadi tempat suci bagi kenangan-kenangan yang tidak sempat diucapkan. Yang hanya disimpan di dalam dada.

Mata saling bertukar pandang, tangan saling menggenggam, tapi hati... kadang tetap harus merelakan.

Rindu memang tak pernah sederhana. Ia tumbuh dari pertemuan, tapi paling terasa saat perpisahan.

Dan kadang, kita baru benar-benar tahu seberapa berartinya seseorang... justru saat harus melihat punggungnya menjauh.

Stasiun Kroya bukan sekadar tempat transit. Ia adalah tempat di mana rindu dan perpisahan bergandengan tangan, lalu mengantar orang-orang yang kita cintai ke gerbong yang membawa kerinduan dan harapan. 

Seperti kereta, selalu datang dan pergi. Tapi ia selalu meninggalkan jejak di rel-rel hati.


Share:

Cahaya di Malam Ramadhan

  بسم الله الرحمن الرحيم

Malam-malam terakhir di bulan Ramadhan selalu terasa penuh dengan semangat, perjuangan, dan harapan. 

Ketika suasana masjid dipenuhi dengan dzikir, doa, dan lantunan Al-Qur’an, ada sesuatu yang sangat istimewa diantara malam-malam itu—sesuatu yang melebihi kilau cahaya yang dipancarkan dari lampu-lampu masjid.

Di salah satu sudut masjid, seorang lelaki yang sudah sangat cukup untuk disebut kakek, duduk di atas lantai masjid tempat para pejuang muslim mencari syurga, mencari lailatul qadar. 

Dengan rambut, kulit, wajah yang sudah tak muda lagi, ia tampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. 

Namun, ada satu hal yang mencuri perhatianku. Meskipun cahaya masjid masih terang benderang, ia menyalakan senter kecil yang diletakkan di atas kepalanya, menyoroti halaman Al-Qur’an yang terbuka di hadapannya.

Aku terdiam sejenak. Terharu dengan pemandangan di depan mata itu. Mengapa ia menggunakan senter meskipun lampu masjid sudah cukup terang?

Namun, begitu aku menyelami pikiranku lebih dalam, aku mulai memahami, bagi orang tua itu, cahaya masjid mungkin hanya cukup untuk menyoroti ruang sekitar, tetapi tidak cukup untuk menyoroti mata tuanya, tidak cukup untuk menyoroti jiwanya yang menggebu untuk mencari kenikmatan syurga.

Ia mencari cahaya yang lebih terang, yang lebih dalam. Cahaya yang mampu menerangi hatinya, menuntun langkahnya, dan menambah ketenangannya di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Senter kecil itu mungkin terlihat sederhana, namun bagiku, itu adalah simbol pencarian yang tak henti-hentinya. Simbol perjuangan, simbol keinginan mendapatkan kenikmatan yang abadi di syurga. 

Seperti orang tua itu, kita semua sedang mencari sesuatu yang lebih dalam dalam hidup ini—sesuatu yang hanya bisa ditemukan dalam kedekatan dengan Allah.

Ada sesuatu yang mendalam tentang usaha yang tampak sederhana itu. Ia tidak memilih untuk berhenti hanya karena ada cahaya di sekelilingnya. Ia tidak memilih berhenti karena usia yang sudah sampai padanya. Ia tidak memilih untuk diam saja di atas kasur miliknya di rumahnya.

Ia berusaha, dengan caranya sendiri, untuk memperoleh cahaya yang lebih murni, yang lebih menentramkan hati. 

Ini adalah semangat yang tak pernah lekang oleh waktu. Semangat untuk terus mencari, terus berusaha, meskipun usia tak lagi muda. Pandangan tak seperti dahulu kala. 

Sepuluh malam terakhir di Ramadhan adalah kesempatan emas bagi siapa pun yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. 

Dalam kesunyian malam, kita diingatkan akan makna ibadah yang tulus, kita diingatkan akan perjuangan, diingatkan akan kebahagiaan negeri akherat dan yang lainnya. 

Dan dalam cerita malam itu, orang tua yang duduk dengan senter di kepalanya mengajarkanku bahwa cahaya sejati tidak hanya ada di luar sana. 

Cahaya sejati adalah yang datang dari dalam hati, yang terus kita cari dengan usaha dan kesungguhan hati.


Share:

Jumat, 22 September 2023

Berdamai Dengan Diri Sendiri

  بسم الله الرحمن الرحيم

Berdamai dengan diri sendiri nampaknya bisa menjadi kata ampuh bagi mereka yang tengah dilanda berbagai macam konflik terutama konflik batin yang melanda dirinya, sehingga dia seolah-olah menyalahkan dirinya sendiri. 

Tidak dipungkiri, roda kehidupan tidak selamanya akan berada di atas, ada kalanya dia harus berada di titik yang rendah, yang mungkin semua itu akan mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah makhluk yang lemah, makhluk yang tidak memiliki apa-apa, makhluk yang tidak akan mampu mengedipkan mata ini tanpa ada pertolongan dari-Nya. Juga mengajarkan kepada kita, bahwasanya ada banyak hal di luar kendali kita. Karena memang kendali penuh hanyalah berada pada-Nya.

Tidak ada untungnya menyalahkan terus kepada diri sendiri. Karena memang banyak hal yang bisa jadi itu di luar kemampuan kita, di luar rencana kita, di luar kehendak kita. Rangkullah dirimu sendiri, berdamailah dengan dirimu sendiri, jadilah sahabat bagi dirimu sendiri, muliakanlah dirimu sendiri. Dan tentu saja pemuliaan terhadap diri sendiri adalah dengan menjaganya dari api neraka.

Di samping itu, perlu juga kita instropeksi diri, mungkin karena kita kurang belajar, kurang rajin belajar, kurang ilmu, kurang rajin bekerja, kurang bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, dan lain sebagainya. 

Kita perlu mendidik diri kita sendiri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, menjadi pribadi yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, sebelum menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang lain.

Bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri?

  1. Terimalah kenyataan bahwa diri kita adalah seperti ini adanya. Jika memang perlu untuk mengambil nafas dalam-dalam, lakukanlah.
  2. Tata ulang hati dan pikiran, jadikan kedua menjadi seluas samudera.
  3. Lakukan evaluasi berkelanjutan. 
  4. Beranilah untuk berubah menjadi ke arah yang lebih baik. 
  5. Selalu dekat dengan Sang Pencipta kita, karena semua kekuatan dan kemampuan adalah mutlak dari-Nya.
  6. Jangan lupa berdoa untuk kebaikan diri kita.
Share:

Jumat, 12 Mei 2023

Tidakkah Kau Perhatikan Satu Detik Itu?

Bismillahirrohmanirrohim

 

Masih teringat dan terkesan dengan tulisan lama yang entah darimana darimana. Ingin kucoba mengalihkan tulisan itu ke dalam gaya tulisanku sendiri.

==========

Jika kita ditanya,

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam seumur hidup kita?

Bisa dipastikan kita akan banyak menjawab dengan, "tidak bisa".

========== 

Jika kita ditanya, 

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam satu tahun?

Yang ini juga bisa dipastikan kita akan banyak menjawab dengan, "tidak bisa"

==========

Jika kita ditanya, 

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam satu bulan?

Yang ini juga mungkin masih banyak yang menjawab, "Tidak bisa/sulit"

==========

Jika kita ditanya lagi,

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam satu minggu?

Yang ini juga mungkin masih banyak yang menjawab, "Tidak bisa/sulit"

==========

Jika kita ditanya lagi, 

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam satu hari?

Yang ini juga mungkin masih banyak yang menjawab, "Tidak bisa/sulit"

==========

Jika kita ditanya lagi, 

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam satu jam?

Yang ini juga mungkin sudah bisa menjawab, "bisa, insya Allah"

==========

Jika kita ditanya lagi, 

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam satu menit?

Yang ini juga mungkin sudah banyak yang bisa menjawab, "bisa, insya Allah"

==========

Jika kita ditanya lagi, 

Apakah kita bisa, tidak bermaksiat dalam satu detik?

Yang ini juga mungkin banyak yang bisa menjawab, "bisa, insya Allah"

 

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut.

 

  

Share:

Minggu, 01 Januari 2023

Menghayati Makna Sukses

Menurut kalian apakah makna sukses itu? 

Menurut saya sendiri sukses harus didefinisikan oleh diri sendiri, karena memang kitalah yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri. 

HARUS SELALU DIINGAT, SEBAGAI SEORANG MUSLIM, SUKSES SEJATI ADALAH MASUK KE DALAM SURGA, DAN SENANTIASA DALAM RIDHO ALLAH 'AZZA WA JALLA

Sukses mungkin juga berhubungan dengan cita-cita, ketika dia telah mencapai cita-cita itu berarti dia telah sukses. 

Mungkin benar, ada kriteria sukses yang seolah-olah itu beredar di sekeliling kita. Sukses adalah ketika seseorang mempunyai pendapatan yang besar, punya rumah yang bagus, mobil yang bagus, dll. 

Kalau semata-semata hanya itu, rasanya kurang pas kalau dalam pendapat saya. Sukses mungkin bisa dalam banyak hal:

  1. Sukses dalam rumah tangga, ketika keluarga kita nyaman kita ada bersama mereka, terjadi rasa saling cinta, saling berlemah lembut di dalam rumah tangga tersebut.
  2. Sukses mendidik anak, ketika anak-anak kita tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, memiliki akhlak yang bagus kepada Sang Penciptanya, memiliki akhlak yang bagus kepada utusan-Nya, memiliki akhlak yang bagus kepada dirinya sendiri, orang tuanya, masyarakatnya, bangsa dan negaranya. 
  3. Sukses dalam pekerjaan, ketika seseorang mampu menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan baik dan dengan pekerjaannya itu dia mampu "memutar roda kehidupannya" dengan baik.
  4. Sukses dalam masyarakat ketika masyarakat merasakan kehadiran kita bermanfaat bagi mereka, walaupun mungkin kita bukan orang yang berharta yang bisa menyumbang kebutuhan masyarakat, tapi mungkin dengan senyuman/ sapaan kita ketika kita pergi ke masjid, mengingatkan mereka akan tugas-tugas mereka di dunia yaitu  mengerjakan shalat. 
  5. Sukses dalam perkara-perkara tertentu yang mungkin tidak semua orang mendapatkan anugerah ini. Misalnya sukses membuat panti asuhan dengan kegiatan utama tahfidz/ menghafal, memepelajari, dan mengamalkan makna-makna Alquran.
  6. Dan lain-lain, dan lain-lain. 

Setidaknya dengan mengetahui makna kesuksesan, kita punya target-target kecil yang harus kita lakukan dan kita syukuri ketika kita telah mencapai target tersebut. 

Share:

Selasa, 02 Agustus 2022

Menjadi Pemimpin Yang Baik

بسم الله الرحمن الرحيم

Dilihat dari judulnya kok mengerikan, emang sudah jadi pemimpin? jawabannya kalau jadi pemimpin perusahaan, pemimpin masyarakat, ya jawabannya bukan to, paling jadi pemimpin diri sendiri dan kelurga, hi. 

Mungkin sih tepatnya diberi judul pemimpin yang baik di mata bawahan, karena selama ini masih jadi bawahan. hehe.

Pemimpin yang baik itu:

  1. Pemimpin yang tegas. Dia berani mengambil keputusan (dengan tepat seharusnya), tidak takut dicela, dia juga percaya diri.
  2. Mempunyai jiwa yang kuat, tidak mencla-mencle, kalau ada yang ngomong ini ikut, ngomong itu ikut,. Jiwa yang kuat tidak mudah digoyahkan ketika telah mengambil keputusan (asal keputusan itu benar). Dan jiwa yang kuat bukan berarti tidak mau merubah keputusan kalau itu lebih baik. 
  3. Menjadi teladan. Bisa memberi contoh (yang baik) kepada bawahan.
  4. Berwawasan luas. Jangan seperti katak dalam tempurung. 
  5. Berbicara dengan santun, memilih kata-kata yang baik, kata-kata yang lembut, tidak menggunakan kata-kata yang menghina, memojokkan, merendahkan harga diri bawahannya (apalagi kalau di depan umum).
  6. Mengetahui kondisi bawahan. Lagi ada apakah dengan dia, punya masalah pribadikah sehingga kinerjanya menurun, ada masalah apakah?
  7. Memberikan tugas dengan jelas dan siap membimbing/ mencari jalan keluar jika butuh bantuan. 
  8. Melihat kondisi bawahan, tidak asal ngasih tugas kepada bawahan, lihat beban kerjanya, lihat gajinya, lihat pekerjaan-pekerjaan bawahan. Jangan-jangan karena bawahan terkenal baik dan bisa diandalkan ketika diberikan tugas, semuanya dikasihkan ke dia. 
  9. Memberikan gaji sesuai dengan beban kerja yang diberikan kepadanya.
  10. Membimbing, tidak hanya menyuruh-nyuruh. 
  11. Memberikan peraturan yang jelas, pengarahan yang jelas, detail jika itu memang diperlukan.
  12. Menanyakan kendala/masalah yang dihadapi. Gunakan kata kalimat, "Ada permasalahan apa nih?", "Ada kendala apa nih?", "Apa yang bisa saya bantu?" dan setelah itu benar-benar dibantu yah. Jangan hanya bisa menuntut, "Kenapa bisa terjadi seperti ini?" (sambil marah-mmarah), "Gitu saja ga bisa"
  13. Berfikir sebelum berkata dan berbuat.
  14. Tahu diri dan bisa menempatkan diri. Sedang berbicara dengan siapa dia, kadar ilmu yang diajak bicara seberapa. Karena bisa jadi bawahannya sudah ahli/punya ilmu yang lebih tinggi daripada sang pemimpin tersebut.  
  15. Bisa memberikan solusi dari permasalahan yang ada.
  16. Seperti semboyan bapak pendidikan Indonesia. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. 
  17. Mau meminta pendapat bawahannya dan mau minta dinilai sama bawahannya. Berani mengatakan, "Tolong kasih masukan ke aku!". Penting juga menampakkan rasa senang ketika diberikan masukan.
  18. Suka mentraktir, xixixi.

 


Share:

Manajemen Waktu dan Prioritas

 بسم الله الرحمن الرحيم

Kalau kita jujur, sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan di dunia ini, terutama bagi mereka yang ingin terus memperbaiki diri dan mempersiapkan yang terbaik untuk kehidupan setelah kematiannya. 

Sebagai seorang muslim, menjadi seorang pengangguran, sebenarnya itu tidak akan terjadi, kalau kita lihat dari bangun tidur sampai tidur lagi, banyak sekali amalan yang bisa kita lakukan. Kita ambil contoh saja ya:

  1. Sebelum subuh, ada amalan shalat malam, shalat tahajud, shalat witir. Kalau dia hafalan alqurannya sudah banyak, bisa jadi satu jam kurang itu shalat malam. 
  2. Setelah itu shalat subuh dilanjutkan dengan dzikir pagi sampai terbit matahari.
  3. Persiapan untuk aktivitas. Mandi, persiapan sekolah, kalau yang sudah jadi orang tua ya nyiapin anak-anak sekolah.
  4. Beraktivitas siang hari. Ada yang bekerja di kantor, di sawah, di jalan, di sekolahan, di pondok. Kalau dia tidak bekerja misalnya sebagai istri, dia membereskan rumah, mencuci, mengepel, belanja, merawat anak, dll. 
  5. Siang ada aktivitas qailulah (tidur siang)
  6. Shalat Dhuhur dilanjutkan aktivitas kehidupan lain misal menjenguk orang sakit, menjemput anak, ada yang masih melanjutkan bekerja. 
  7. Shalat Asar dilanjutkan dzikir petang. Berkumpul dengan keluarga, ada juga yang mungkin belajar ngaji, ngajar TPQ.
  8. Shalat Maghrib dilanjutkan belajar bersama keluarga.
  9. Shalat Isya dilanjutkan belajar, menghafal alquran, membaca-baca, berkumpul dengan keluaga. Bahkan mungkin ada juga yang harus masih mencari tambahan rezeki karena kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
  10. Tidur malam.

Sesungguhnya seorang muslim itu sangat banyak "kerjaan":

  1. Katakanlah dia mau menghafal alquran, maka berapa banyak waktu yang harus dia habiskan. Mulai dari duduk menghafal, kemudian dia murajaah (mengulang) hafalannya, berapa waktu yang dia butuhkan. Kalau satu juz saja misalnya butuh waktu satu jam maka berapa jam waktu yang dia habiskan? Dan biasanya para penghafal alquran, interaksi mereka dengan alquran itu butuh waktu berjam-jam.
  2. Apalagi kalau dia ada target menghafal hadits-hadits Nabi.
  3. Aktivitas menuntut ilmu. Bisa datang langsung ke kajian, bisa mendengarkan rekaman kajian, lewat rekaman rata-rata durasinya 1 jam.
  4. Aktivitas membaca buku.
  5. Aktivitas membantu orang tua, membantu keluarga, membantu anak-anak, membantu orang lain, menjenguk orang sakit, dll.
  6. Mengajari anak-anak, mengajari keluarga, dll.

Begitu banyak waktu yang dibutuhkan sementara waktu yang ada mungkin akan terasa sangat kurang. Makanya kita butuh manajemen waktu dan prioritas.

  1. Membagi urusan agar semuanya bisa tercapai. Misal nulis blog, biar muatannya banyak, ada agenda nulis/belajar akuputur, ada agenda nulis yang lain. Kalau fokus di belajar akupuntur terus, nampaknya akan lama baru bisa nulis yang lain.
  2. Membuat prioritas, mana yang penting, terutama untuk kehidupan akhirat. Mungkin bisa disiapkan dari porsinya, perhatiannya, target-targetnya, dan hal-hal yang mengarah kepadanya. 
Semoga Allah mudahkan urusan kita semuanya.
Share:

Selasa, 19 Juli 2022

Memetik Perjalanan Hidup

بسم الله الرحمن الرحيم

Perjumpaan dengan teman lama, mendapatkan pelajaran yang berharga dalam kehidupan ini. Pertemuan yang mungkin tergolong singkat, tapi bisa memetik pelajaran yang hebat. 

Mengenal beliau ketika kita sama-sama menjadi seorang santri, dan lebih tepatnya beliau adalah "senior" karen beliau lebih dahulu masuk di pondok pesantren tersebut. Semangat belajar, semangat menuntut ilmu tergambar jelas dalam kehidupan beliau (semoga terus istiqomah ya Pak).

Satu hal yang cukup menggelitik pikiranku, ternyata dalam profesi beliau yang sudah menjadi Ustadz, beliau mau berjualan bubur keliling. Sebuah profesi yang mungkin jarang menjadi pilihan. 

Tapi ya demikian kehidupan, beliau semula bekerja sebagai tukang gypsun, tapi karena berfikir kalau seperti ini terus maka tidak akan leluasa untuk kesana-kemari, akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang tidak mengikat, jualan bubur nampaknya menjadi pilihan itu. 

Banyak hal yang beliau sampaikan: bingung mau mangkal dimana ketika awal kali jualan, modal 50 ribu bisa jadi 150 ribu, belajar bahasa arab saja bisa apalagi cuma belajar bikin bubur, haha. 

Terima kasih telah mengajarkanku tentang hidup dan kehidupan ini.

Share:

Kamis, 14 Juli 2022

Hidup Butuh Belajar

بسم الله الرحمن الرحيم

  

Perjalanan hidup tidak akan lepas dari perkara yang bernama belajar. Sejak kecil kita terus belajar, belajar tengkurap, belajar duduk, belajar merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar berlari, belajar di sekolah, belajar keterampilan, belajar tentang hidup, belajar tentang kehidupan, dan terus dan terus belajar. 

Begitulah kehidupan, dia akan terus butuh untuk belajar, belajar mencari uang, belajar memanage keuangan, memanage keluarga, memanage pernikahan, memanage anak, memanage hati, memanage pikiran, memanage waktu, dan lain sebagainya. 

Belajar yang utama tentu belajar tentang agama, agar kita tahu tujuan kita di dunia ini untuk apa, jangan sampai kita menjadi orang yang tidak tahu untuk apa kita di dunia ini. 

Ketidaktahuan akan tujuan hidup akan menjadi perkara yang berbahaya, karena dia tidak tahu hendak kemana, kalau dalam bahasa jawa mungkin dinamakan luntang-lantung ora jelas, kita berlindung kepada Allah dari yang demikian. 

Ayo .... terus semangat belajar. 

Tidak ada kata berhenti untuk belajar ......

Share: