Rumahku Syurgaku

Siapapun kita pasti ingin membangun surga di rumah masing-masing. Karena surga itu bukan barang yang murah, maka perhatikan apa yang kita "investasikan" untuk membangun surga kecil di rumah kita itu.

Anak Adalah Investasi Yang Berharga

Kita ingin memiliki anak-anak yang shalih/shalihah, tapi sudahkah kita tahu anak yang shalih/shalihah itu yang seperti apa?

Serpihan Kata-Kata

Rangkaian kata untuk mengambil hikmah/pelajaran dari hidup dan kehidupan ini. Karena tidak ada yang sia-sia apa yang ada di sekitar kita.

Tips dan Trik

Memang benar, dengan berilmu suatu perkara bisa menjadi mudah.

Akupuntur atau Tusuk Jarum

Sebuah teknik pengobatan dengan menusukkan jarum di titik tertentu di tubuh kita untuk menyembuhkan suatu penyakit.

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2025

Memperhatikan Sang Buah Hati

  بسم الله الرحمن الرحيم

Mendidik adalah sebuah proses yang harus dijalani oleh kita sebagai orang tua. Mungkin pernah ada yang mengumpamakan, bahwa mendidik adalah laksana menanam tanaman:

  • Butuh ditanam di lahan yang tepat. Mengkondisikan lingkungan agar sesuai dengan pertumbuhannya.
  • Butuh dirawat dengan disiram, diberi pupuk. Dengan kasih sayang, perhatian.
  • Butuh dijaga dari hama yang mengganggu. Dengan membentengi mereka, mewanti-wanti agar begini dan begitu, jangan begini begitu. Termasuk menjaga pergaulan. 
  • Jika ada penyakit perlu juga dihilangkan.

Di kala tanaman masih muda, dia perlu perhatian yang lebih karena kondisinya yang memang masih lemah.

Kaget juga ketika mendengar kalau si kecil tetika mendapatka cerita mengucapkan kata-kata a n j i * g. Umminya jelas marahin dia. Akhirnya si kecil kita panggil, kita dudukan dan di tanya-tanya. 

Di lain kesempatan ternyata si kecil mengucapkan kata-kata jelek lagi, akhirnya kita korek lagi informasi. Usut punya usut katanya mendengar ada yang bilang itu di suatu tempat dari orang yang dia tidak tahu namanya. Segelah kita kasih nasehat dia. Kita kasih kalau itu kata-kata jelek.

Pendidik perlu mengingatkan mereka berkelanjutan, tidak cukup hanya sekali dua kali mereka nurut. 

Semoga Allah mudahkan kita semua dan diberikan kesabaran dan kekuatan untuk mendidik anak-anak kita. 

Share:

Minggu, 14 Mei 2023

Bagaimana Mendidik Anak Bagian 1

  بسم الله الرحمن الرحيم

 

Mendidik adalah adalah perkara penting dalam hidup kita. Kehidupan seorang anak menjadi baik, tentu dia akan melewati proses. Tidak serta merta seorang anak lantas akan menjadi baik. Ada proses pendidikan disana. 

Kembali kepada teori anak bagaikan kertas putih, ada benarnya juga. Karena secara asal mereka datang ke dunia ini dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Kemudian orang tua, lingkungan, apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, hal itu yang "menginstal" ke dalam diri mereka yang kemudian bisa jadi hal itu akan menjadi "standar" bagi mereka. 

Oh makan yang baik itu pakai tangan kanan, hal itu terjadi ketika anak melihat sekelilingnya makan menggunakan tangan kanan, kemudian ada input (nasehat) ke dalam dirinya, "Makanlah dengan tangan kanan", kemudian jika makan dengan tangan kiri ada yang mengingatkan, "Nak makanlah dengan tangan kanan", tentu hal itu akan semakin memperkokoh apa yang telah "terinstal" di dalam diri mereka bahwa makan itu dengan tangan kanan. 

Dari situ mungkin kita sudah sedikit memahami tentang makna "instal" dan menanamkan nilai-nilai kepada seorang anak. 

Pada tulisan sebelumnya sudah dijelaskan, ketika kita ingin mempunyai anak yang shalih/shalihah, maka kita perlu mendefisinisikan apa itu shalih/shalihah, sehingga kita menjadi tahu akan dibawa kemana arah pendidikan anak kita.

Jika kita ambil contoh, saya ingin mempunyai anak yang shalih/shalihah. Bagiku anak yang shalih/shalihah itu yang:

  1. Mempunyai adab yang baik kepada Allah.
  2. Mempunyai adab yang baik kepada Rasulullah.
  3. Mempunyai adab yang baik kepada orang tua.
  4. Mempunya adab yang baik kepada orang yang lebih tua. 
  5. Mempunyai adab yang baik kepada orang yang lebih muda.
  6. Mempunyai adab yang baik kepada pemerintahnya, tetangganya, sekitarnya, makhluk-makhluk-Nya.
  7. Menjadi sosok penghafal alquran, hadits-hadits nabi dan perkataan para ulama.
  8. Bermanfaat untuk dirinya sendiri. 
  9. Dan seterusnya dan seterusnya.

Itu menurutku perkara penting dan juga sebagai langkah awal agar kita mempunyai arah dalam mendidik anak-anak kita. 

Adapun selanjutnya masih banyak pekerjaan seperti bagaimana berkomunikasi, menjalin hubungan dengan mereka, mendoakan mereka, manajemen emosi untuk diri sendiri, dan lain-lain, dan lain-lain.

Berdiskusi dengan Bang AI (Artificial Intelegent), bagaimana mendidik anak yang baik, kurang lebihnya seperti ini:

Mendidik anak yang baik memerlukan kombinasi antara cinta, kesabaran, konsistensi, dan pemahaman tentang kebutuhan individu anak. 

  • Iya, cinta nampaknya masih menjadi kekuatan yang besar, cinta bagaikan kebutuhan yang harus ada dalam pendidikan. Kekuatannya kita sudah banyak mengetahui. 
  • Disamping cinta juga butuh kesabaran, dan memang perjalanan hidup tidak lepas dari kata sabar. Sabar terus, sabar terus, dan sabar terus. 
  • Kemudian konsistensi juga perkara yang penting, mungkin dalam bahasa agama lebih dekat dengan kata istiqomah. Ketika kita sudah menanamkan nilai bahwa "makan harus dengan tangan kanan" maka proses selanjutnya adalah penjagaan yang terus-menerus. Ketika anak lupa, kita ingatkan, anak lupa kita ingatkan, anak lupa kita ingatkan, dan seterusnya.
  • Pemahaman kebutuhan individu juga penting, dalam setiap tahap perkembangan saja, kebutuhan anak sudah berbeda, kebutuhan anak TK tentu berbeda dengan ana kuliah, bukankah begitu?

Berikut adalah beberapa tips untuk mendidik anak yang baik (dari Bang AI):

  1. Berikan cinta dan dukungan yang mencakup semua aspek kehidupan anak Anda. Tunjukkan bahwa Anda selalu ada untuk mereka dan mereka dapat mengandalkan Anda.

  2. Jadilah contoh yang baik dalam segala hal. Anak-anak belajar dengan meniru, jadi berperilaku positif dan memberikan contoh yang baik akan memperkuat nilai-nilai dan sikap yang diinginkan.

  3. Komunikasikan dengan jelas dan terbuka. Ajarkan anak-anak untuk berbicara dengan jujur dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

  4. Fokus pada keterampilan sosial dan emosional. Ajarkan anak-anak cara memahami emosi mereka sendiri dan cara berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang positif.

  5. Berikan batasan dan aturan yang jelas. Anak-anak perlu memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan memahami harapan yang diharapkan dari mereka.

  6. Terlibat dalam kehidupan anak Anda. Ajarkan mereka hal baru, libatkan mereka dalam kegiatan keluarga, dan beri mereka ruang untuk mengeksplorasi minat mereka sendiri.

  7. Berikan pujian dan penghargaan yang tepat. Anak-anak membutuhkan dukungan dan pujian untuk membangun rasa percaya diri dan memotivasi mereka untuk melakukan yang terbaik

    menciptakan lingkungan yang positif, memberikan contoh yang baik, dan memahami kebutuhan anak Anda, Anda dapat membantu mereka tumbuh menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dan tentu perkara yang sangat penting adalah KENALKAN MEREKA DENGAN PENCIPTA MEREKA. Sehingga mereka bisa "tahu diri", mereka mengetahui untuk apa mereka ada di dunia ini dan bagaimana mereka bersikap untuk kehidupan di dunia ini.

Share:

Rabu, 17 Agustus 2022

Karena Kita Berbeda-Beda

Mendidik anak adalah sebuah seni yang kita harus terus belajar, terus mengasah kemampuan kita.

Kita menyadari bahwa setiap orang mempunyai karakter sendiri-sendiri. Ada orang yang senang bekerja di dalam ruangan, ada yang senang bekerja di luar ruangan, ada yang betah duduk lama-mana di belakang komputer, ada yang sebentar saja duduk di depan meja rasanya sudah ga betah.

Belum lagi kalau memperhatikan makanan kesukaan, ada yang suka makan bakso, ada yang suka makan mie ayam, ada yang mau daging, ada yang tidak mau daging, dll. 

Hal itu menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk unik yang mempunyai karakter sendiri-sendiri. 

Dalam mendidik anakpun demikian, hendaknya kita mempelajari karakter masing-masing anak kita. Walaupun terlahir dalam rahim yang sama, akan tetapi "mesti" mereka adalah makhluk  yang berbeda. Ada yang pendiam, ada yang berisik, ada yang ini, ada yang itu. 

Dengan mengenal karakter anak-anak kita:

  • Kita akan lebih mudah "memfollowup" ketika anak kita berbuat sesuatu. 
  • Kita bisa merayu dia lebih cepat, 
  • Kita bisa mengarahkan dia lebih cepat.
So, sudahkah kita mengenal karakter anak kita dan juga jurus "mengalahkan" dia?
 

 


Share:

Rabu, 10 Agustus 2022

Memberikan Arahan Pada Anak

 بسم الله الرحمن الرحيم

Masih teringat dengan tulisan seorang kawan di status whatsappnya yang menyebutkan bahwa di tempat dia berada, ada anak yang sopan, kalau ga salah anak tersebut sering memberikan salam duluan kepada orang lain/gurunya. 

Setelah ditelusur ternyata anak tersebut suka "dipeseni" oleh orang tuanya untuk berbuat seperti itu. 

Membaca tulisan tersebut jadi teringat lagi dengan teori bahwa anak ibarat kertas putih, yang mungkin tafsirannya bahwa anak itu "tidak tahu apa-apa" tentang kehidupan ini. Dan tugas kita adalah "memberitahu/menuliskan catatan-catatan baik kepada anak tentang apa yang harus dia tahu/lakukan di dunia ini".

Peran orang tua sangat penting dalam hal ini karena orang tualah yang berjumpa dengannya di sebagian besar waktunya. Demikian pula peran lingkungan (guru, masyarakat, teman dia bermain, dll). 

Bagi anak mungkin mereka tidak tahu kalau membuka aurat itu adalah perkara yang haram, karena mereka memang tidak tahu. Kalau mereka terus-terusan di lingkungan tersebut dalam keadaan tidak ada yang memberi tahu kalau hal tersebut haram/tidak boleh, maka pikirannya akan mencerna bahwa owh ga pakai jilbab itu ya perkara yang biasa saja. Artinya ya dia tidak tahu kalau itu perkara haram dan diapun biasa-biasa saja, santuy ikut-ikutan tidak pakai jilbab.

Nah dari situ perlu kita memberikan pesan/arahan kepada anak:

  1. Nak, kalau makan itu baca bismillah dan pakai tangan kanan.
  2. Nak, kalau di sekolah nurut sama Ustadz/Ustadzah.
  3. Nak, di sekolah waktu belajar duduk yang tenang, dengerin yang disampaikan guru.
  4. Nak, pakai jilbab dan kaos kakimu kalau keluar rumah.
  5. Nak, manusia hidup itu untuk beribadah.
  6. Nak, manusia dalam menjalani hidup ini butuh kesabaran
  7. Nak, kalau berbicara yang lembut, masak teriak-teriak sama Ummi
  8. dst dst
Jangan bosan-bosan ya mengulang-ulang kata itu. Jangan berputus asa kalau misalnya dia makan masih pakai tangan kiri, diingatkan terus.  

Terus disamping hal tersebut kita perlu juga membangun emosi yang positif kepada anak kita, dengan memberikan dia ruang kedekatan bersama kita, mencurahkan isi hatinya, diajak komunikasi, diajak bercanda, bermain bersama dia, memberikan kelembutan, manusiakan dia sebagai manusia, dll. 

Jangan juga setiap hari anak makan omelan ini itu, terus-menerus mendapatkan "nasehat" sampai "overdosis" dengan tidak melihat kondisinya.  

Loh ini bagaimana sih, katanya suruh mengulang-ulang memberi pesan/nasehat/arahan, kok di paragaf diatas jangan terus-terusan memberikan nasehat sampai overdosis nasehat.

Jawabannya, silakan pelajari sendiri anak-anak kita, karena memang mendidik anak itu adalah sebuah seni yang mungkin satu jurus mempan untuk anak ini, tapi tidak mempan untuk anak itu. So, semangat belajar, karena hidup memang butuh belajar.

Dan perkara yang penting juga adalah keteladanan.

Share:

Minggu, 24 Juli 2022

Pekerjaan Itu Bernama Kenyamanan

 بسم الله الرحمن الرحيم

Siapapun kita pasti ingin mendapatkan kenyamanan dalam hidup yang kita jalani ini. Tidak muda, tidak tua, tidak kaya, tidak miskin pasti mendambakan kehidupan yang nyaman.

Jika semata-mata kekayaan adalah bentuk kenyamanan, mungkin kita pernah mendengar seorang kaya raya yang mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri. Jika pasangan yang cantik/ganteng adalah kenyamanan, mungkin kita pernah mendengar pasangan yang cantik dan ganteng itu kandas rumah tangganya (terjadi perceraian) di tengah perjalanan keluarga mereka. 

Memang demikian, kenyamanan tidak hanya sebatas pada semata-mata materi saja, seperti rumah megah, mobil mewah, makanan dengan level bintang lima, atau segala kemewahan dunia.

Tidak dipungkiri, rumah, kendaraan, makanan merupakan "sesuatu" yang bisa menjadikan hidup nyaman. Kalau gelandangan ditanya apakah dia senang/nyaman dengan hidup yang dia jalani, tentu dalam hatinya tersirat keinginan untuk memiliki rumah sendiri. 

Kenyamanan menjadi perkara penting, kenyamanan perlu dijadikan "pekerjaan" penting, prioritas penting, sesuatu yang perlu diperhatikan. 

  • Dalam rumah tangga, istri perlu nyaman terhadap suami, suami perlu nyaman terhadap istri. 
  • Dalam rumah tangga, anak perlu nyaman terhadap orang tua, orang tua perlu nyaman dengan anak.
  • Dalam rumah tangga, adik perlu nyaman dengan kakak, kakak perlu nyaman dengan adik.
  • Dalam persahabatan, sahabat perlu nyaman dengan sahabatnya.
  • Dalam bertetangga, tetangga perlu nyaman dengan tetangganya
  • Demikian seterusnya

Dengan kenyamanan:

  • Komunikasi akan berjalan lancar
  • Suasana akan berjalan harmoni
  • Suami akan betah tinggal di rumahnya
  • Istri akan menikmati hari-harinya/tentram hatinya
  • Anak akan nyaman tinggal di rumah, mau curhat/terbuka kepada orang tuanya. 

Bagaimana istri bisa nyaman di rumah, kalau setiap hari mendapatkan komplain ini itu. Bagaimana suami bisa nyaman kalau istri banyak menuntut ini itu. Bagaimana anak bisa nyaman kalau setiap hari hanya mendapatkan omelan, tuntutan ini itu tanpa didengar keluh kesahnya, keinginannya.

Lalu, bagaimana agar menciptakan kenyamanan dalam kehidupan ini?

Untuk mendapatkan kenyamanan itu:

  • Butuh materi yang mencukupi terutama tiga kebutuhan dasar: sandang, pangan, papan, dan mungkin zaman sekarang butuh uang. Kesehatan? jangan ditanya, kesehatan juga penting.
  • Butuh saling mengerti, saling memahami, dan terkadang butuh untuk mengalah. 
  • Butuh komitmen. 
  • Butuh menghilangkan ego.
  • Butuh perjuangan.
  • Butuh kesabaran.
  • Butuh kemauan untuk memperbaiki diri.
  • Butuh waktu untuk menjalin kasih, menjalin komunikasi yang hangat. 
  • Butuh kelembutan, ngobrol santai, bercanda, bersendau gurau, makan bersama, dll.
  • Butuh tanggapan yang baik ketika ada yang mencurahkan perasaan/mengajak ngobrol. 
  • Butuh perhatian walaupun mungkin itu kecil (yang perkara besar tentu harus diperhatikan ya), "Mas, capek ya, sudah makan belum, mau minum/makan apa?", "Dek, mau beli ini/itu ga?". Yang perempuan sesekali digombalin juga bagus. 
  • Butuh tutur kata yang halus, lembut, santun, tidak sadis/menyinggung perasaan (nah yang ini perlu diwaspadai, karena kadang kita tidak sadar ternyata ucapan kita begitu tajam menyanyat hati orang lain, padahal perasaan kita biasa-biasa saja mengucapkannya).
  • Butuh kelapangan hati, kelapangan pikirian.
  • Butuh pikiran yang positif.
  • Butuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah 'azza wa jalla. Mengetahui hak dan kewajiban masing-masing dan berkomitmen melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing dengan lapang dada/senang hati.   
So, selamat berjuang untuk kenyamanan itu. 
Share:

Sabtu, 16 Juli 2022

Anak Seperti Apa yang Sebenarnya Kita Inginkan?

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Setelah anugerah berupa anak ini turun dari Sang Pencipta, dan dia telah hadir di tengah-tengah kita, langkah selanjutnya adalah kita bersyukur dan terus belajar untuk menyiapkan yang terbaik untuknya.

Satu hal yang mengusik pikiranku, banyak diantara kita yang mendambakan anak-anak yang shalih, anak-anak yang baik, yang menjadi penyejuk mata bagi kita semua, tapi terkadang kita lupa untuk mendefinisikan/menguraikan anak yang shalih/anak yang shalihah itu adalah anak yang seperti apa? Yang pintar ngajikah? yang bisa bantu orang tua? yang selalu menutup aurat? ataukah yang bagaimana? 

Ini yang kadang membuat kita tidak fokus dalam menyiapkan anak-anak kita, kita tidak ada arah yang pasti mau dibawa kemana anak-anak kita sebenarnya.

Tidak salahnya jika kita semua berhenti sejenak dan merenung, bertanya kepada diri sendiri, anak-anak yang saya inginkan itu yang seperti apa sih sebenarnya? anak yang aku dambakan itu yang bagaimana sih? atau lebih detail lagi, anak shalih/shalihah yang sebenarnya aku maui itu sebenarnya yang seperti apa sih?

Untuk itu mari kita ambil bolpoin/pensil dan kertas, atau jika tidak ada pensil kertas, pakai komputer, laptop, atau hp untuk menuliskan apa sebenarnya hendak kita targetkan dari anak-anak kita. 

Misal ketika kita mengatakan, saya pingin punya anak shalih, anak shalih seperti apa yang sebenarnya saya mau?

  1. Anak yang memiliki rasa cinta, takut, dan berharap hanya kepada Allah Azza wajalla
  2. Anak yang menurut/patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Anak yang memiliki adab yang tinggi kepada Allah, Rasulullah, orang tua, saudara, tetangga, masyarakat, dan seterusnya.
  4. Anak yang hafal alquran 30 juz dan mengamalkannya.
  5. Anak yang hafal hadits-hadits Nabi dan mengamalkannya.
  6. Anak yang menghafal nasehat-nasehat indah para ulama dan mengamalkannya.
  7. Anak yang selalu menjaga auratnya.
  8. Anak yang selalu menjaga kehormatannya. 
  9. Anak yang pemberani, yang berjiwa kuat, bermental baja.
  10. Dan seterusnya dari apa yang hendak kita tanamkan kepada anak-anak kita. 

Dengan kita mengetahui dengan detail apa yang sebenarnya kita mau, maka harapannya kitapun akan mudah merumuskan langkah-langkah selanjutnya untuk membentuk dan menyiapkan buah hati kita agar dia menjadi yang terbaik untuk dirinya sendiri dan bisa menjadi penyejuk mata untuk kita sebagai orang tua.

Share: