Rabu, 22 Oktober 2025

Cahaya di Malam Ramadhan

  بسم الله الرحمن الرحيم

Malam-malam terakhir di bulan Ramadhan selalu terasa penuh dengan semangat, perjuangan, dan harapan. 

Ketika suasana masjid dipenuhi dengan dzikir, doa, dan lantunan Al-Qur’an, ada sesuatu yang sangat istimewa diantara malam-malam itu—sesuatu yang melebihi kilau cahaya yang dipancarkan dari lampu-lampu masjid.

Di salah satu sudut masjid, seorang lelaki yang sudah sangat cukup untuk disebut kakek, duduk di atas lantai masjid tempat para pejuang muslim mencari syurga, mencari lailatul qadar. 

Dengan rambut, kulit, wajah yang sudah tak muda lagi, ia tampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. 

Namun, ada satu hal yang mencuri perhatianku. Meskipun cahaya masjid masih terang benderang, ia menyalakan senter kecil yang diletakkan di atas kepalanya, menyoroti halaman Al-Qur’an yang terbuka di hadapannya.

Aku terdiam sejenak. Terharu dengan pemandangan di depan mata itu. Mengapa ia menggunakan senter meskipun lampu masjid sudah cukup terang?

Namun, begitu aku menyelami pikiranku lebih dalam, aku mulai memahami, bagi orang tua itu, cahaya masjid mungkin hanya cukup untuk menyoroti ruang sekitar, tetapi tidak cukup untuk menyoroti mata tuanya, tidak cukup untuk menyoroti jiwanya yang menggebu untuk mencari kenikmatan syurga.

Ia mencari cahaya yang lebih terang, yang lebih dalam. Cahaya yang mampu menerangi hatinya, menuntun langkahnya, dan menambah ketenangannya di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Senter kecil itu mungkin terlihat sederhana, namun bagiku, itu adalah simbol pencarian yang tak henti-hentinya. Simbol perjuangan, simbol keinginan mendapatkan kenikmatan yang abadi di syurga. 

Seperti orang tua itu, kita semua sedang mencari sesuatu yang lebih dalam dalam hidup ini—sesuatu yang hanya bisa ditemukan dalam kedekatan dengan Allah.

Ada sesuatu yang mendalam tentang usaha yang tampak sederhana itu. Ia tidak memilih untuk berhenti hanya karena ada cahaya di sekelilingnya. Ia tidak memilih berhenti karena usia yang sudah sampai padanya. Ia tidak memilih untuk diam saja di atas kasur miliknya di rumahnya.

Ia berusaha, dengan caranya sendiri, untuk memperoleh cahaya yang lebih murni, yang lebih menentramkan hati. 

Ini adalah semangat yang tak pernah lekang oleh waktu. Semangat untuk terus mencari, terus berusaha, meskipun usia tak lagi muda. Pandangan tak seperti dahulu kala. 

Sepuluh malam terakhir di Ramadhan adalah kesempatan emas bagi siapa pun yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. 

Dalam kesunyian malam, kita diingatkan akan makna ibadah yang tulus, kita diingatkan akan perjuangan, diingatkan akan kebahagiaan negeri akherat dan yang lainnya. 

Dan dalam cerita malam itu, orang tua yang duduk dengan senter di kepalanya mengajarkanku bahwa cahaya sejati tidak hanya ada di luar sana. 

Cahaya sejati adalah yang datang dari dalam hati, yang terus kita cari dengan usaha dan kesungguhan hati.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar