بسم الله الرحمن الرحيم
Langit Kroya di sore ini agak cerah. Aku berdiri diantara bangku-bangku yang penuh, memperhatikan jasad-jasad yang tengah menunggu.
Ada yang membawa koper, ada yang membawa tas, ada yang membawa kardus, tapi semuanya membawa sesuatu yang sama: perasaan.
Stasiun selalu jadi tempat yang ganjil. Di satu sisi dia menjadi titik awal, di sisi lain, dia adalah tanda perpisahan. Mungkin ada yang melambaikan dengan tawa. Ada juga yang tersenyum sambil menyeka air mata. Ada pula yang memeluk erat seolah takut waktu mencuri lebih cepat.
Kroya menjadi saksi cerita setiap harinya. Cerita tentang keberangkatan yang diiringi harapan. Cerita tentang kepulangan yang membawa kerinduan.
Setiap orang yang berangkat, mungkin punya alasan untuk kembali. Tapi tidak semua bisa kembali tepat waktu. Mungkin karena keadaan. Mungkin karena janji yang belum bisa ditunaikan. Mungkin juga karena ada luka yang masih perlu waktu untuk disembuhkan.
Dan di tengah suara peluit kereta dan roda logam yang menggesek rel, bisa jadi ada gema doa-doa lirih yang tak terdengar, tapi terasa. Doa dari seorang istri yang melepas suaminya bekerja jauh. Doa dari anak kecil yang belum paham kenapa ayahnya harus pergi. Doa dari seorang ibu yang belum ingin berpisah dengan anaknya.
Stasiun seolah menjadi tempat suci bagi kenangan-kenangan yang tidak sempat diucapkan. Yang hanya disimpan di dalam dada.
Mata saling bertukar pandang, tangan saling menggenggam, tapi hati... kadang tetap harus merelakan.
Rindu memang tak pernah sederhana. Ia tumbuh dari pertemuan, tapi paling terasa saat perpisahan.
Dan kadang, kita baru benar-benar tahu seberapa berartinya seseorang... justru saat harus melihat punggungnya menjauh.
Stasiun Kroya bukan sekadar tempat transit. Ia adalah tempat di mana rindu dan perpisahan bergandengan tangan, lalu mengantar orang-orang yang kita cintai ke gerbong yang membawa kerinduan dan harapan.
Seperti kereta, selalu datang dan pergi. Tapi ia selalu meninggalkan jejak di rel-rel hati.






0 komentar:
Posting Komentar