بسم الله الرحمن الرحيم
Gerbong itu tidak pernah memilih siapa yang masuk ke dalamnya. Ia hanya menerima siapa pun yang datang dengan tiket dan waktu keberangkatan yang tepat.
Tapi setiap orang yang duduk di dalamnya, membawa dunia mereka masing-masing. Ada yang membawa penuh dengan harapan, ada yang membawa dengan penuh kenangan, dan ada yang membawa lainnya yang diketahui masing-masing orang di dalamnya.
Gerbong kereta, disana ada yang duduk tenang, ada yang memandangi sekitar, ada yang asyik dengan smartphone di genggaman, ada yang diam dalam seribu bahasa. Ada juga yang menunduk, matanya lelah menahan kantuk atau menahan rindu.
Di satu masa yang lain mungkin ada tangisan, ada senyuman, ada gelak tawa, tapi tak semua tawa berasal dari bahagia. Kadang ada yang tertawa agar tidak terlihat rapuh.
Gerbong menyatukan mereka dalam satu arah. Tapi tidak menyamakan tujuan hati mereka. Ada yang ingin segera sampai. Ada juga yang diam-diam berharap waktu di kereta tak cepat berlalu.
Di antara suara roda yang menggesek rel, dan bunyi pintu otomatis yang terbuka-tutup, ada ruang-ruang sunyi yang hanya bisa didengar oleh ruang hati masing-masing.
Gerbong kereta itu seperti panggung sunyi. Setiap orang adalah aktor dalam kisahnya sendiri.
Dan saat akhirnya sampai di stasiun tujuan, mereka keluar satu per satu, membawa kembali rasa yang sempat mereka titipkan di sepanjang perjalanan.
Tinggallah gerbong itu lagi, kosong... tapi penuh bekas jejak yang tak terlihat—jejak rasa, jejak doa, jejak rindu yang belum selesai










